Jathilan (Dusun Bongsren, Jodog)
Jathilan adalah salah satu tari tradisional Jawa. Tarian ini dilengkapi dengan peralatan seperi “kuda lumping” (kuda buatan). Puncaknya adalah salah satu penari melakukan hal-hal dibawah alam sadar, Jathilan menggambarkan salah satu keadaaan perang yang menggunakan kuda dan hanya menggunakan pedang. Ada tari lainnya yang tidak menggunakan kuda, hanya menggunakan topeng.

Reog (Dusun Karanggedhe)
Tari Reog yang terkenal di Bantul berbeda dengan Reog yang ada di Ponorogo. Di Bantul, Reog adalah salah satu bentu tarian yang menggambarkan cerita perang. Penarinya menggunakan pakaian batik, syal, rompi batik dan bagian dari seragam dari karakter wayang yang dimainkan. Pertunjukan Reog juga dimainkan dengan music tradisional dari bende, dodog, kepyek, dan lagu macapat.
Marching Blek (Dusun Jodog)
Beranggotakan pemain 60-100 orang. Mereka memainkan 9 musik instrument yang berbeda. Mereka memainkan pop, lagu daerah, dan lagu anak-anak. Mereka menggunakan pakaian yang unik dan aksesoris. Mereka berlatih sebelum mereka tampil.

Macapat (Dusun Bongsren)
Macapat adalah sebuah lagu klasik dari Jawa dan diawali pada zaman Wali Songo. Pada awalnya lagu ini hanya memperkenalkan budaya Islam. is a classical song originally from Java and started in Wali Songo era. This song firstly was used to introduce Islam through culture. Macapat menggambarkan proses kehidupan manusia dari lahir sampai mati.

Wayang Kertas (Dusung Karangasem)
Karangasem di Desa adalah salah satu pusat dari wayang kertas. Wayang tersebut juga dijual sebagai souvenir kepada para wisatawan. Wayang ini terbuat dari kertas, dibentuk dan diwarnai menyerupai karakter wayang.

Gamelan Bertopeng “GARENG”
berawal dari sebuah desa Gilangharjo yang memiliki banyak potensi kesenian dan karya seni, sebuah karawitan yang menggunakan peralatan gamelan sebagai warisan budaya nenek moyang serta topeng yang berupa karya seni lokal yan patut di lestarikan oleh generasi mendatang agar seni-seni terdsebut dapar selalu bertahan dan berkembang beriringan dengan munculnya sebuah modernisme sebagai penggeser budaya lokal. Maka dari itu muncul sebuah penggabungan yang menyatukan bebrapa potensi tersebut menjadi sebuah senipertunjukan yang berwujud “GARENG” gamelan bertopeng yang menggabungkan seni karawitan dan seni topeng serta dimainkan oleh anak-anak yaitu sebagai simbol keceriaan dan kebanggaan anak-anak tentang kesenian sebagai pelaku kebudayaan masa mendatang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s